Priode Sejarah Lahirna Pengarang Novel Sunda dan Karyanya

Kehadiran karya sastra dalam bentuk novel di nusantara terlahir dari pengaruh besar bangsa-bangsa di eropa, baik itu novel sunda sendiri maupun novel dalam bentuk bahasa melayu.

Pada karya-karya sastra dalam bahasa sunda sendiri yang ditulis sebelum abad ke-20 umumnya hanya mengrupakan sebuah wawacan atau cerita dalam bentuk puisi yang terikat aturan, karena pada saat itu kebanyakan karya sastra sunda isinya hanya berupa khayalan.

Artikel terkait: Nama-nama Pengarang Dan Sejarah Perkembangan Novel Sunda Anak


Namun saat sastra novel masuk ke dalam sastra sunda karya tulis ini lebih menggambarkan kepada masyarakat kecil dan menceritakan kehidupan masyarakat (Realitas Kehidupan) seperti novel yang berjudul baruang ka nu ngarora serta contoh lainnya adalah novel karya Joehana.

Setelah itu karya-karya tulis seperti novel berbahasa sunda ini pun banyak bermunculan dari tahun-ke tahun. Nah, dibawah ini akan dituliskan nama-nama pengarang novel beserta maha karyanya dan priode tahun sejarah terbitnya novel sunda tersebut.

Priode Terbitnya Pengarang Novel Dan Karyanya

Priode Sejarah Lahirna Pengarang Novel Sunda dan Karyanya

1. Periode tahun 1920 hingga 1940

Pada tahun ini banyak sekali ditemukannya karya-karya sastra dalam bahasa sunda yang telah diterbitkan termasuk sastra novel didalamnya. Di tahun ini sekaligus menjadi masa kejayaan bagi khasanah sastra sunda. Karena banyak penerbit yang menyimpan empatinya untuk menerbitkan sastra sunda.

Nama pengarang beserta karyanya yang berjaya pada tahun 1920 hingga 1940 ini diantaranya adalah:

Ahmad Basjah (Atau biasa disebut dengan Joehana), dengan karya karangannya yang berjudul Carios Eulis Acih, Carios Agan Permas, Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama, Kasuat ku Duriat, Mugiri, Neng Yaya, dan Rusiah nu Goreng Patut.
Memed Sastrahadiprawira, dengan karangannya yang berjudul Mantri Jero, Pangeran Kornel, dan Tresnasena jeung Nyi Putri Sedih Asih (Dengan versi terjemahan bahasa belandanya yaitu : De Roman van Tristan en Isolde)
Mohamad Ambri, dengan judul karangannya Lain Eta, Mumbuk di Sue, Munjung, Ngawadalkeun Nyawa, Burak Siluman, dan Pependeman Nabi Sulaeman (yang diterjemahan ke bahasa inggrisnya dengan judul : King Solomon’s Mine)
Muhamad Sanusi, dengan karangannya yang berjudul Siti Rayati, Siti Fatimah, dan Dibelaan Pegat Nyawa. Namun pada ketiga karya Muhamad Sanusi ini tidak diperkenankan untuk diterbitkan oleh pemerintah belanda karena dianggap dapat membahayakan masyarakat.
Sambas dan Susangka (atau lebih dikenal dengan Samsu), dengan karyanya yang berjudul: Laleur Bodas.
Margasulaksana (Nama Asli R. Iting Partadiredja), dengan karyanya yang berjudul: Diarah Ati.

Selain pada nama-nama pengarang novel dan karyanya yang disebutkan diatas, pada priode tahun 1920 hingga 1940 ini novel versi bahasa sunda juga diterbitkan dalam berbagai majalah Parahyangan. Novel-novel yang terbit ini berupa novel yang berkelanjutan seperti misalnya novel dengan judul:

Hutang Nyeri Bayar Nyeri karangan Joehana, Nyalindung Ka Gelung karya S.H Kartapradja, Bengkung Bekas Nyalahan karya O.S Barman dan M. Ali Kartawinata, serta Saha Ari Baraya Kuring karangan dari Wiganda Sasmita.
2. Priode tahun 1940 hingga 1950

Pada priode tahun ini merupakan masa pemerintahan jepang yang sangat mempengaruhi sekali perkembangan di sastra sunda, hanya ada dua buah novel saja yang terbit pada masa ini yaitu dengan judul:

Gogoda Ka Nu Ngarora (lanjutan dari novel baruang ka nu ngarora) karangan M.A Salmun dan Marjanah karyan Suwarsih Djojopuspito.
3. Periode 1960-an

Di tahun ini adalah masa kebangkitan bagi khasanah sastra sunda. Dimulai dari yang berbentuk buku novel, cerita bersambung pada majalah sunda, hingga sampai dimuat juga pada beberapa surat kabar basa sunda.

Ada pun beberapa nama-nama pengarang beserta karya yang terbit pada masa priode tahun ini, diantanya yaitu sebagai berikut:

Yus Rusamsi, dengan judul karya novelnya Dedeh, Pileuleuyan, Randa Bengsrat, dan Wilujeng Enjing.
Min Resmana, dengan judul karyanya Napsu nu Matak Kaduhung, Neangan Bapa, dan Imah nu Rea Kamarna.
Nanie Sudarma, dengan judul karyanya Pamuda Desa, Sekar Ligar di Tetelar, dan Mojang Kota.
Eddi Tarmidi, dengan karyanya yang berjudul Meunang Geusan Muntang dan Wangsit Prabu Siliwangi.
M.I Adnawidjaja, dengan karyanya yang berjudul Laksana.
Ayatrohaedi, dengan karyanya Kabogoh Tere.
Sjarif Amin (nama asli nya adalah H. Mohamad Koerdi), dengan judul karanganya yang berjudul Babu Kajajaden dan Manehna.
Hayati, dengan karyanya yang berjudul Nyonya Kawasa.
Apip Mustopa, dengan novel karyanya yang berjudul Kadeudeuh Panganggeusan dan Bogoh Ka Randa.
Tjaraka (nama asli nya adalah Wiranta) dengan karyanya yang berjudul Sri Panggung.
Ki Umbara, (nama asli nya adalah Ranu Sulaksana) dengan karyanya yang berjudul Beja ti Maranehna, Diwadalkeun ka Siluman, Kongkorong Bentang, Maju Jurang Mundur Jungkrang, Si Bedog Panjang, dan Pahlawan Pahlawan ti Pasantren (yang dibuat bersama S.A Hikmat).
Karena Yudibrata, dengan judul novel karyanya yaitu Ngantri Ngantri Dawuh.
Ahmad Bakri, dengan karyanya berjudul Nu Seungit Dipulang Asih, Srangenge Surup Manten, dan Payung Butut.
4. Periode tahun 1970-an
Pada masa ini terbitlah pula karya tulis yang berjudul Ngabuang Maneh karya Ki Umbara, Pipisahan karyannya RAF (Rahmatullah Ading Affandi), Puputon karangan Aam Amilia, Sudagar Batik karangan Akhmad Bakri, dan Lembur Singkur karangan dari Abdullah Mustapa.
5. Periode tahun 1980-an
Tepatnya di tahun 1983 terbitlah 7 buah novel dalam bahasa sunda dengan judul diantaranya yaitu Buron karangan Aam Amalia, Cinta Pabaliut karangan Edi D. Iskandar, Bentang Pasantren karangan Usep Romli H.M, Rini karangan Yosep Iskandar, Ngepung Kahar Mujakar karangan Adang S, Si Lamsijan Kaedanan karangan Ki Umbara, dan Mikung karangan Abdulah Mustappa.
6. Periode 1990-an
Pada priode ini lebih tepatnya pada tahun 1991 terbitlah novel-novel yang berjudul Prabu Wangisutah karangan Yosep Iskandar; Pamanah Rasa karangan yosep Iskandar; Tanjeur na Juritan Jaya di Buana karangan Yosep Iskandar; Sang Mokteng Bubati karangan Yosep Iskandar; Putri Subanglarang karangan Yosep Iskandar; Demung Janggala (1993) karangan Tatang Sumarsono; Katineung (1998) karangan Holisoh M.E.
7. Periode tahun 2000-an
Di tahun ini terbit novel yang berjudul Galuring Gending karya dari Tatang Sumarsono.


Dari tahun ke tahun sejarah priode awal mulanya pengarang karya sastra novel yang lahir di tatar sunda ini mengalami kemajuan dan penurunan seperti ditahun 1940 hingga 1950 namun setelah itu kembali mengalami kejayaan.

Semoga saja, sebagai genarasi penerus kita dapat terus melestarikan kebudayaan sunda khususnya misalnya dalam karya sastra sunda ini. Semoga pemerintah di jawa barat lebih memperhatikan lagi akan perkembangan kebudayaan sunda yang ada, agar khasanah kejayaan sastra sunda tetap terus ada dan tidak termakan oleh waktu.

Akhir kata, semoga informasi dalam artikel ini dapat bermanfaat buat kammu khusunya bagi para pelajar di daerah jawa barat yang sedang mempelajari karya sastra novel dan ingin mengetahui siapa nama-nama pengarangnya beserta priode tahun terbitnya novel tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *