Nama-nama Pengarang Dan Sejarah Perkembangan Novel Sunda Anak

Novel pertama kali di tulis oleh seorang wanita kelahiran jepang yang bernama murasaki shikibu, namun nama tersebut masih nama pena alias belum pasti nama asli yang sebenarnya. Novel tersebut berjudul “genji monogatari” berisi 54 bab dengan tebal mencapai 1000 halaman. Fantastis!

Perkembangan Novel

Perkembangan dan lahirnya novel di negara kita sendri merupakan efek dari pengaruh besar negara luar, baik itu novel berbahasa indonesia maupun yang berbahasa sunda sendiri.

Berdasarkan sejarah terbitnya novel pertama kali di indonesia ialah novel yang berbahasa sunda karya Daeng Kanduruan Ardiwinata yang berjudul Baruang Ka Nu Ngarora yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1914.

Baca juga: Pengertian novel dalam bahasa sunda lengkap.


Novel yang berjudul Baruang Ka Nu Ngarora ini ditulis berdasarkan dari kehidupan masyarakat, ini terlihat jelas bahwa awal terbentuknya novel tersebut berawal karena adanya faham realisme atau karangan yang menggambarkan kanyataan realitas dari kehidupan.

Novel Anak Bahasa Sunda

Sejarah Perkembangan Novel Sunda Anak

Novel anak adalah salah satu jenis novel dari sekian banyak novel yang ada. Novel anak ini biasanya menceritakan bacaan yang ringan yang di dalam bukunya terdapat amanat yang dapat diambil untuk dijadikan sebagai pembelajaran, terutama untuk anak-anak yang membaca novel ini.

Novel anak berbahasa sunda sendiri merupakan jenis novel yang ditujukan untuk bacaan anak-anak. Masalah yang diceritakannya pun yang dekat kaitannya dengan kehidupan anak-anak sehari-hari pada umumnya.

Seperti misalnya cara menghadapi atau menyelesaikan suatu masalah, dan novel seperti ini dibuat berdasarkan pikiran serta jiwa anak-anak serta pelaku utamanya pun biasanya juga anak-anak.

Tujuan dikembangkannya buku literasi bahasa sunda pada novel anak seperti ini tidak lain untuk meningkatkan kemampuan membaca, menalar dan pemecahan masalah oleh pembacanya, terutamanya anak-anak.

Pengarang novel sunda anak

Novel Sunda Anak

Dalam perkembangannya, pengarang novel sunda anak memang tidak sebanyak dari pengarang novel pada umumnya seperti misalnya pengarang novel yang berbahasa indonesia. Meskipun demikian, cukup banyak maha karya yang dihasilkan oleh pengarang novel ini khususnya untuk anak dalam bahasa sunda, diantaranya seperti :

Samsoedi, Ki umbara, Tatang Sumarsono, Hidayat Soesanto, Ahmad Bakri, Aan Merdeka Permana, Adang S, mereka semua adalah merupakan pengarang novel anak berbahasa sunda yang dikenal dikalangan sastrawan.

Novel Anak sendiri sudah di terbitkan dari jaman belanda atau masa kolonial, novel anak yang pertama ini berjudul “Budak Teuneung” buah karya dari sang maha karya Samsoedi pada cetakan pertamanya tahun 1930.

Baca juga: Kumpulan 25 Judul Novel Sunda Jeung Pangarangna

Novel anak biasanya diperankan oleh tokoh binatang (fabel) atau tokoh yang usia sebayanya, ini bertujuan untuk memudahkan anak-anak agar dapat lebih mengerti dan memahami isi pesan yang akan disampaikan oleh pengarang di dalam novel tersebut.

Pesan atau amanat ini tentunya dapat berguna untuk perkembangan dirinya, dan ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari sastra novel anak yang dapat dibedakan dengan sastra remaja atau sastra untuk dewasa.

Berikut adalah ciri-ciri sastra anak yang dirangkum dari Suyatno tahun 2009, Sarumpaet tahun 2009, dan B. Nurgiyantoro pada tahun 2005. Dan berikut adalah nama-nama dari pengarang novel sunda anak beserta karya-karyanya.

Nama-nama Pengarang dan Priode terbitnya Karya Novel Anak


Dan berikut adalah nama-nama pengarang beserta tahun priode terbitnya judul karya novel anak dalam bahasa sunda.

1. Periode Awal 1930

Pada masa awal sekitar tahun 1930 novel karya dari Samsoedi yang berjudul “Budak Teuneung” telah terbit di awal tahun ini dengan cetakan pertamanya, serta tidak ditemukan karya lainnya yang terbit pada masa itu.

2. Periode Transisi (1960-an)

Novel anak berbahasa sunda yang terbit pada masa ahun ini merupakan novel karangan dari Samsoedi dengan judul “Budak Minggat” yang merupakan cetakan keduanya pada tahun 1965. Sebelumnya memang ada cetakan pertama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di Jakarta, namun tanpa rincian tahun penerbitannya.
Lalu di tahun 1968 terbit juga novel karangan dari Ahmad Bakri yang berjudul “Nu Sengit Dipulang Asih”.

3. Periode Tengah (1980 sampai 1990)

Di tahun ini merupakan awal dari kebangkitan Kesateraan sunda dalam bentuk novel Anak, karna bertambah banyak nya karya yang dipublikasikan oleh Penerbit ditahun ini, diantaranya adalah :

• Samsoedi; dengan karyanya “Budak Teuneung” Cetakan ke dua pada tahun 1982.
• Tatang Sumarsono; Dengan judul “Miang jeung Kaludeung” tahun 1983.
• Aan Merdeka Permana; Dengan novel anak yang berjudul “Kedok Tangkorak” (1986), “Andar-andar Stasion Banjar” (1986), “Jalma nu Ngarudag Cinta” (1986), “Andar-andar Pangandaran, Paul di Pananjung Paul di Batukaras, Muru Tanah Harepan” (1987), dan “Tanah Angar di Sebambam” (1987).
• Adang S; Dengan judul “Budak Calakan” (1986), dan novel “Dang Umar ti Situraja” (1984).

4. Periode Modern (1990 hingga Era 2000-an)

Era 2000 merupakan era modern yang semakin memudahkan para pengarang mempublikasikan karyanya, bahkan tidak hanya melalui media cetak, pengarang telah mampu mempublikasikan dalam bentuk digital.

Masa ini karya sangat banyak ditemukan dari pengarang yang telah lama berkarya ataupun pengarang yang baru mencoba berkarya. Berikut beberapa pengarang yang tercatat telah berkarya pada era 2000-an.

• Aan Merdeka Permana; Kembali membuat karangan novel anak yang berjudul Nyaba ka Leuweung Sancang pada tahun 1990.
• Tatang Sumarsono; Dengan karangannya yang berjudul Si Paser pada tahun 1992.
• Hidayat Soesanto; Dengan karyanya yang berjudul Guha Karang Legok Pari (1993), Bima Rengkung (1995), dan Seri Carita Wayang tina Mahabarata.
• Aan Merdeka Permana; Dengan novel anak yang berjudul Paul di Pananjung, Paul di Batukaras (1996), Si Bedegong (1999), Silalatu Gunung Salak (sebanyak 6 episode di tahun 1999).
• Wahyu Wibisana; Dengan judul Anaking Jimat Awaking tahun 2002.
• Cecep Burdansyah; Dengan karyanya Anak Jadah terbit tahun 2002.
• Samsoedi; Dengan novel anak yang berjudul Carita Si Dirun (2002), lalu terbit lagi Novel Budak Teuneung Cetakan Ke-3 (2002) Cetakan ke-4 (2008), Cetakan ke-5 (2010), Surat Wasiat (2012). Babalik Pikir.
• Ahmad Bakri, karyanya Kabandang Ku Kuda Lumping (2008).
• Adang S, dengan karyanya Neangan Bapa yang terbit tahun 2010.
• Ki Umbara, selain karyanya di Novel Dewasa, juga terdapat Novel Anak karangannya yang berjudul Menak Amir, Lutung Leutik (2002), Si Bedog Panjang (2012), Teu Tulus Paeh Nundutan (2013)

Ciri-ciri Sastra Anak

1. Tokoh yang akan diperankan dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu
2. Didalam sebuah isi cerita selalu di sertai dengan gambar
3. Memakai ragam bahasa yang mudah dipahami anak dan sederhana
4. Desain buku bacaan yang unik untuk menarik perhatian anak
5. Menceritakan seputar tentang kehidupan anak (keluarga, teman, guru, dll)
6. Diakhir ceritanya biasanya berakhir dengan menggembirakan
g) Dikaitkan dengan psikologi untuk perkembangan anak

Perkembangan Novel Sunda Anak

Dalam karya sastra novel anak yang berkembang di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak ditemukan dalam berbagai macam bahasa. Seperti salah satunya dalam bahasa sunda.

Lalu, bagaimana novel anak ini bisa terus berkembang di jaman modern yang notabenenya anak-anak pada masa sekarang ini lebih menyukai hasil karya diluaran karya sastra seperti gadget dan teknologi?

Sedangkan seperti yang sudah kita ketahui bahwa belakangan ini periodisasi sastra sunda sendiri sudah mengalami masalah yang cukup penting, karna ada beberapa diantaranya sastra sunda yang masih belum jelas dan terperinci keberadaannya.

Ketidak pedulian terhadap budaya sunda oleh orang-orang sunda itu sendiri sudah sangat terlihat jelas dan menjadi faktor utama. Ini sebenarnya yang menyebabkan hal ini cukup mempersulit dalam menyusun periodisasi karya-karya Sastra Sunda lainnya seperti periodisasi novel, carpon, fiksimini, prosa dan karya sastra lainnya.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang mari kita bersama-sama saling peduli terhadap perkembangan budaya, terlebih pada karya sastra berbahasa sunda.

Baca juga: Priode Sejarah Lahirna Pengarang Novel Sunda dan Karyanya

Karena sesuatu yang ditulis akan lebih mudah untuk ingat dan dipelajari karena akan terus tersimpan di dalam suatu tulisan. Sehingga dokumen atau artikel yang berhungan dengan perkembangan kebudayaan sunda ini akan terus lestari meskipun termakan oleh jaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *