Kecap Rajekan (Pengulangan Kata) Bahasa Sunda dan Contohnya

By | September 13, 2022

Assalamualaikum, kecap rajekan –  Dalam buku tata bahasa, terdapat istilah-istilah khusus bagi bentuk-bentuk pengulangan kata dalam bahasa sunda. Ada yang mengistilahkannya sebagai duplikasi, full reduplication atau perulangan kata seutuhnya, serta reduplikasi parsial atau pengulangan kata sebagian.

Namun, istilah-istilah yang lazim dipergunakan untuk kata perulangan kata bahasa sunda atau kecap rajekan adalah: Dwilingga (dwimurni dan dwireka), dwipurwa, dwimadya, dwisasana atau dwiwekas, dan trilingga.

Kecap Rajekan dan Contohnya

Kecap rajekan

Dari bentuk-bentuk pengulangan kata tersebut, ada yang ditambahkan dengan imbuhan atau rarangken dan ada juga yang tidak menggunakan. Imbuhan atau rarangken sendiri merupakan sebuah kata yang ditambahkan entah itu diawal, diakhir, ataupun gabungan antara keduanya.

Jenis Kecap Rajekan dan Contohnya

1. Dwilingga

Jenis kecap rajekan dwilingga

Dwilingga adalah bentuk kata ulang yang terjadi dari perulangan bentuk dasar seutuhnya (jadi sama dengan duplikasi kata) contohnya:

Awewe-awewe (Perempuan-perempuan)
Bener-bener (Betul-betul)

  • A. Jenis Dwimurni

Kecap rajekan dwilingga yang tidak mengalami perubahan bentuk bunyi (vokal) atau fonem seperti contoh diatas disebut dengan dwimurni.

Contoh dwimurni Dengan Penambahan Imbuhan

Berikut adalah contoh-contoh lainnya apabila kita tambahkan dengan rarangken atau dengan penambahan imbuhan, baik diawal katanya maupun dibagian akhir.

Penambahan imbuhan (di-)

Di awut-awut (Artinya: di acak acak)
Ngadago-dago (Artinya: menunggu-nunggu)
Kasabit-sabit (Artinya: teringgung-singgung)

Dengan imbuhan (di-) dan (-keun)

Diaya- aya (Artinya: diada-adakan)
Nawar-nawarkeun (Artinya: menawar nawarkan)

Dengan imbuhan (sa-) dan (-na)

Sakitu-kituna (Artinya: hanya sekian)
Sasae-saena (Artinya: sebaik-baiknya)

Dengan imbuhan (sa-) dan (-eun)

Sakali-kalieun (Artinya: barang sekali)
Saeutik-eutikeun (Artinya: sedikit sekitpun)

Dengan imbuhan (ka-)

Katambih-tambih (Artinya: bertambah-tambah)
Kateungeul-teungeul (Artinya: terpukul-pukul)

Dengan imbuhan (an-)

Ubar-ubaran  (Artinya: obat obatan)
Undur-unduran (Artinya: mundur sedikit-sedikit)

Dengan imbuhan (pa-)

Pahareup-hareup (Artinya: berhadap-hadapan)
Pangeling-ngeling (Artinya: peringatan)

Dengan imbuhan (sa-)

Saimah-imah (Artinya: seisi rumah)
Sabisa-bisa (Artinya: sedapat mungkin)

Contoh selengkapnya, dapat baca pada materi:  Kecap Rajekan Dwimurni dan Contoh Kata Dasar Beserta Kalimatnya

  • B. Jenis Dwireka

Jenis dwilingga yang lain adalah bentuk kata ulang yang mengalami perubahan bentuk vokal, atau mengalami perubahan bentuk bunyinya. Baik pada unsur pertama maupun pada unsur kedua. Dwilingga jenis ini disebut dengan dwireka.

Contoh:

Buca-baca (membaca-baca)
Asal-usul  (asal-muasal)

Bentuk ulang dwireka hanya mempunyai satu variasi pada imbuhan atau rarangkennya, yaitu (di-) dan (ka-)

Contoh:

Dimurah-mareh (Artinya: dimurah murahkan)
katulap-tilep (Artinya: terlipat lipatkan)

Selengkapnya: Kecap Rajekan Dwireka dan Contoh Kata Serta Kalimatnya Lengkap

2) Dwipurwa

Dwipurwa adalah bentuk ulang yang terjadi dari perulangan suku kata awal bentuk dasarnya. Jadi, sama dengan reduplikasi.

Jenis Kecap rajekan Dwipurwa

Contoh:

Bubuka  (pembukaan)
Susuguh (Sajian)

Bentuk ulang dwipurwa mempunyai beberapa variasi berupa komposisi serentak dengan berbagai imbuhan atau rarangken.

Contoh penambahan rarangken (-an)

Cocooan (Artinya: main mainan)
Babarengan (Artinya: selalu bersama-sama)

Dengan rarangken (eun-)

Disasaruakeun  (Artinya: disamakan)
Ngadeudeukeutkeun (Artinya: mendekat-dekatkan)

Dengan rarangken (di-)

Dibobodo (Artinya: dibohongi)
Dililieur (Artinya: memperpusing diri)

Dengan rarangken (-na)

Mimindengna (Artinya: yang tersering)
Gegedena (Artinya: yang terbesar)

Dengan rarangken (-eun)

Pipilueun (Artinya: ikut-ikutan)
Uuseupeun (Artinya:  sakit telan)

Contoh selengkapnya silahkan baca: Kecap Rajekan Dwipurwa dan Contoh Kalimatnya Lengkap!

3) Dwimadya

Dwimadya adalah bentuk ulang yang terjadi dari perulangan suku kata tengah bentuk dasarnya. Dalam buku-buku tata bahasa Sunda, juga dalam buku-buku tata bahasa Indonesia serta buku-buku linguistik, bentuk ulang seperti ini belum pernah dikemukakan.

Dalam bahasa Sunda ditemukan data-data bentuk ulang seperti: sababaraha (beberapa), sadidinten (sehari-hari), tikakarait (tersangku sangkut), titatarajong (tersandung sandung).

Bentuk ulang dwimadya cukup produktif dalam pembentukan kata-kata yang bentuk asalnya bersuku satu, sedangkan bentuk dasarnya berkonfiks sa-eun. Variasi lain dari bentuk ulang dwilingga ialah bentuk ulang yang bentuk dasarnya imbuhan ka- dan -an.

Kalamian → kalalamian (terlalu lama)

Kangeunahan → kangeungeunahan (keenakan)

Kaleuwihan →  kaleuleuwihan (berlebih-lebihan)

Baca: 20 Kecap Rajekan Dwimadya Jeung Contoh Kalimahna

4) Dwiwasana atau dwiwekas

Dwiwasana atau dwiwekas adalah bentuk ulang yang terjadi karena perulangan suku kata akhir pada bentuk dasarnya. Istilah ini mula-mula dipergunakan dalam buku Kandaga Tata bahasa, karangan R. Momon Wirakusumah dan I. Buldan Djajawiguna (1969).

Penelitian masih meragukan adanya bentuk ulang jenis ini karena contoh-contoh yang disajikan dalam bentuk itu seperti cakakak (terbahak), cikikik (kikik) dan keweweng (lengking) bukan lagi bentuk ulang, melainkan bentuk dasar sebab tidak mengandung arti apa-apa. Sehingga, khususnya didalam pelajaran sekolah kecap rajekan yang satu ini tidak dipelajari.

5) Trilingga

Trilingga adalah bentuk ulang yang terjadi karena perulangan bentuk dasar lebih dari sekali, biasanya tiga kali. Perulangan tiga kali ini hanya berlaku pada bentuk dasar yang bersuku kata satu dan dalam proses perulangannya selalu terjadi perubahan vokal menurut pola tertentu.

Contoh:

Dor → Dar-der-dor (Bunyi senapan berkali-kali)

Trok → Trak-trek-trok (Bunyi-bunyi benda kecil beradu)

Pluk → Plak-plik-pluk (Bunyi buah berjatuhan)

Bluk → Blak-blik-bluk (bunyi orang berjatuhan)

Weh → Wah-wih-weh (Sibuk)

Baca juga: 24+ Contoh Kecap Rajekan Trilingga Jeung Kalimahna Lengkap!

Fungsi Kecap Rajekan

Kecap rajekan atau kata perulangan mempunyai dua fungsi utama, yakni fungsi gramatis dan fungsi semantis. Fungsi gramatis adalah fungsi yang bertalian dengan perubahan bentuk satuan bahasa, sedangkan fungsi semantis ialah fungsi yang bertalian dengan perubahan makna satuan bahasa.

Berdasarkan uraian singkat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam proses pengulangan kata dapat  menghasilkan kata-kata yang berbeda atau perubahan identitas pada kata dasarnya.