Hade Gogog Hade Tagog, Hade ku Omong, Goreng ku Omong!

By | September 9, 2022

Biasanya seseorang akan disebut baik apabila dalam ucapan atau tutur katanya juga baik. Tapi sebaliknya, orang yang bicaranya kurang baik maka bisa di cap sebagai orang yang kurang baik pula. “Alus jeung gorengna jelema teh ceunah bisa di ukur ku omongana.

Pribahasa sundahade ku omong, goreng ku omong” ini juga merupakan produk satu jaman yang menjadi gelar dalam kehidupan orang Sunda di jaman dahulu. Jadi dalam berbicara itu kita harus hati-hati jangan asal jeplak, semau jidat. Kalau kata orang sunda mah “ulah asal heuay wungkul!”

hade ku omong goreng ku omong

Karena ada pepatah juga yang mengatakan bahwa “agar bisa mengendalikan kuda harus dipegang talinya, dan  jika seseorang itu harus bisa di pegang pada ucapannya”.

“Ngomong teh kudu alus, mun urang hayang di ajenan ku batur” Kitu ceunah ceuk kahurun urang sunda mah.

Ajaran babasan sundahade ku omong goreng ku omong” juga sudah bersumber dari ajaran islam, yang terdapat dalam ayat alqur’an, yang intinya bahwa:

Mun ngomong téh kudu qaulan sadida, qaulan layyina, atawa qaulan ma’rufa.” Arti secara singkatnya adalah kalau berbicara itu haruslah dengan pembicaraan yang baik-baik atau bagus.

Pribahasa Hade Gogog Hade Tagog

Hade Gogog Hade Tagog

Berbicara tentang ucapan, ada pribahasa sunda lainya yaitu hade gogog hade tagog. Nah, menurut orang sunda “Gogog” dan “tagog” itu bagian yang sulit untuk dipisahkan, ibarat gula dengan rasa manisnya, ibarat terasi dengan baunya.

Cara seseorang bercerita (juga termasuk isinya) itu yang disebut gogog dalam konsep sunda. Seperti yang terdapat dalam babasan “Hadé gogog hadé tagog” ini

“Harti tina paribasa hade gogog hade tagog teh nyaeta alus dina nyarita jeung alus dina kalakuannana.”

Jadi yang disebut “gogog” itu tidak hanya meliputi cara berbicara atau berceritanya saja yang bagus, akan tetapi juga isinya. Jadi, bagus cara berceritanya harus sama bagusnya dengan kelakuannya.

Sehingga dalam babasan hadé gogog hadé tagog ini jelas sekali bahwa yang harus bagus itu bukan hanya gogog atau cara berceritanya, seperti kepintarannya saat bercerita, cara penyampaian isi ceritanya yang bagus, akan tetapi tagog atau penampilan, kepantasan, dan kelakuannya juga harus sama bagusnya.