Kawih lagu permainan ayang ayang gung, sejarah, dan pesan moralnya

By | September 18, 2022

Kawih atau lagu ayang ayang gung adalah kakawihan dari permainan anak-anak yang tersebar di seluruh daerah di Jawa Barat. Lagu ini sangat digemari oleh anak-anak, khususnya yang tinggalnya di pedesaan.

Lagu ayang ayang gung merupakan lagu pengiring dari permainan anak-anak yaitu dalam permainan ucing peungpeun, artinya yang menjadi kucing di dalam permainan ini matanya harus ditutup atau dalam bahasa sunda dipeungpeun.

Notasi Kawih

Notasi Kawih ayang ayang gung

Lirik Lagu Ayang Ayang Gung:

Laras salendro :

Ayang-ayang gung, gung..
Gung goongna rame , me..
menak Ki Mas Tanu, nu..
nu jadi Wadana, na..
naha mana kitu, tu..
tukang olo-olo, lo..
loba anu giruk, ruk..
ruket jeung kumpeni, ni..
niat jadi pangkat, kat..
katon kagorengan, ngan..
ngantos Kangjeng Dalem, lem..
lempa-lempi lempong..
jalan ka Batawi ngemplong!

Terjemahan Artinya:

Berpegangan bahu gung,
Gung goongnya ramai,
ningrat Ki Mas tanu
yang menjadi wedana
mengapa demikian
tukang sombong manja
banyak yang benci
dekat dengan kumpeni
niat mendapatkan pangkat
terlihat kejelekannya
menanti kangjeng dalem
lempa lempi lempong
jalan ke Betawi terbuka

Cara Bermainan Permainan Ayang Ayang Gung

Permainan Ayang Ayang Gung

Adapun cara memainkan permainannya adalah sebagai berikut:

Anak-anak yang kira-kira berjumlah 10 orang (yang 1 orang diantaranya menjadi kucing) membuat Iingkaran dengan jalan saling berpegangan tangan. Sedangkan yang menjadi 1 orang anak yang menjadi kucing, ditutup matanya dan ditempatkan di tengah-tengah lingkaran.

Anak-anak lainnya yang berpegangan tangan tersebut berjalan mengelilingi seorang anak yang menjadi kucing sambil menyanyikan Iagu atau kakawihan ayang-ayang gung.

Sedangkan yang menjadi kucing dengan matanya yang ditutup menanti selesainya lagu yang dinyanyikan bersama oleh calon-calon mangsanya. Di sini, anak yang menjadi kucing benar-benar mendengar suara-suara calon mangsanya, untuk kemudian diterkanya.



Menganalis sejarah dari lahirnya kawih ayang ayang gung

Kawih dalam permainan ayang-ayang gung bila dilihat dari isinya secara keseluruhan mencerminkan keadaan yang kurang damai, mungkin si pencipta lagu ini sedang mencerminkan situasi masa ketika penjajah sedang berkuasa di negara kita.

Nampaknya jika dilihat dari latar be lakang sejarah dari lagu tersebut, mungkin lagu ini muncul ketika bangsa Indonesia khususnya di Tatar Sunda sedang dalam maa penjajahan Belanda (kompeni).

Hal ini dapat dilihat pada isi teks nyanyiannya, sehingga dapat diperkirakan waktu kapan lagu tersebut muncul di lingkungan masyarakat Sunda. Misalnya, seperti pada larik yang menyatakan:

“Ruket jeung kumpeni”

Yang jika diartikan “akrab dengan kompeni.” Dengan demikian, diperkirakan lagu atau nyanyian kakawihan barudak ini lahir ketika Belanda sedang berkuasa di Indonesia.

Lagu ayang ayang gung sendiri mengandung makna dari “sisindiran”, karena gaya bahasa yang digunakan berbentuk perbandingan, perumpamaan, atau kiasan. Di dalamnya juga terdapat rangkaian kata yang merupakan suatu cerita, seperti misalnya:

Jalan ka Batawi ngemplong.” (jalan ke Betawi terbuka)

Maksudnya jalan ke pusat pemerintahan Belanda di Jakarta, yang dapat meningkatkan derajat atau kepangkatan terbuka bagi orang yang bersangkutan.

Simak kata-kata berikut ini:

Ayang-ayang gung, gung…
gung go-ongna rame, me…
Menak Ki Mas Tanu, nu..
Nu jadi wadana, na..

Berpegangan bahu gung
gung go-ongnya ramai
ningrat Ki Mas Tanu
yang menjadi Wadana

Bahwa lirik dari kawih tersebut mengungkapkan “berjalan berpegangan bahu”, maksudnya beramai-ramai mengadakan pesta dengan menak (kaum bangsawan) yang bernama Ki Mas Tanu yang menjadi wedana.

Mengapa demikian, karena banyak yang sombong dan ingin dimanjakan, banyak pula yang dibenci. Meskipun demikian bagi yang ingin mendapatkan kedudukan akan berusaha dengan segala cara seperti dekat dengan kompeni, memberikan sesuatu kepada pejabat, sampai-sampai perempuan pun diberikan (ngadu pipi) asal jalan ke Betawi (pemerintahan) terbuka.

Meskipun lagu tersebut merupakan lagu sisindiran, pada kenyataannya lagu tersebut merupakan suatu lagu yang menjadi milik anak-anak karena merupakan pengiring dari sebuah permainan anak-anak atau “kaulinan urang lembur“. Adapun bila dilihat dari kalimat lagu ayang-ayang gung, lagu tersebut mempunyai arti dan makna yang tersendiri.

1. Larik pertama :

“Ayang-ayang gung, gung..”

yang artinya berpegangan bahu, dan mengiaskan dua orang atau lebih yang mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Secara eksplisit “ayang-ayang gung” melukiskan bermain ketrampilan anak-anak.

Tetapi sebenarnya dalam kakawihan tersebut ingin menggambarkan suasana kegotong royongan, sebab secara denotatif ayang-ayang gung berarti adanya rasa persatuan, saliing berpegangan tangan atau bahu membahu. Majas yang muncul yaitu indra penglihat tentang orang yang bersama-sama mengerjakan pekerjaan.


Larik ke dua :

“Gung goongna rame, me..”

Ini mengibaratkan suatu pesta keramaian yang diadakan dengan tabuhan gamelan yang dinyatak’an dengan goong (gong). Goong merupakan alat kesenian sunda, sedangkan “gung” merupakan suara dari gong yang bersuara ramai itu.

Hiburan semacam tabuhan gamelan tersebut biasanya dibarengi dengan nyanyian dari sinden (penyanyi) dan ibing (tarian). Para undangan yang hadir biasanya turut meramaikan dan ikut menari bersama-sama ronggeng (penyanyi dan penari perempuan).

Pesta keramaian seperti itu tentu banyak mengeluarkan biaya, dan segala pengeluaran itu ditanggung oleh yang bersangkutan atau bersama-sama dengan yang lain untuk menyenangkan hati para menak (ningrat atau pejabat belanda) agar kepentingan yang bersangkutan dapat terkabul.

Secara implisit larik tersebut menggambarkan suara masyarakat yang mendengar keputusan atas perintah yang disampaikan menak Ki Mas Tanu, nu jadi wadana. Ki Mas Tanu yang bergelar wadana itu, selalu berusaha mengatas namakan kompeni, bahkan kepentingan bangsa sendiri kurang diperhatikan, dan jadi tukang olo-olo berarti Ki Mas Tanu itu suka menjilat.

Masyarakat jadi ‘benci’ karena ternyata beliau terlalu “ruket jeung kompeni” (dekat dengan kompoeni). Setelah diketahui mengapa Ki Mas Tanu itu selalu dekat dengan kompeni dapat disimpulkan bahwa tindakannya itu memperlihatkan bahwa ia ingin terpuji.

Larik berikutnya:

Niat jadi pangkat, kat..
katon kagorengan, ngan..
niat jadi pangkat, kat..
katon kagorengan, ngan..
ngantos Kangjeng Dalem, lem
lempa-lempi lempong..
jalan ka Batawi ngemplong!

Yang jika diartikan ‘kalau ingin jadi pejabat atau ingin naik pangkat, walaupun berkelakukan jelek’ asal ngantos Kangjeng Dalem jika menantikan Kangjeng Dalam pasti hasratnya terkabul. Dalem ialah pangkat yang diberikan pemerintah kompeni.

Kalau sekarang adalah Bupati atau Walikota. Kalau menunggu Dalem pasti kedudukan akan dapat diraih, karena Dalem adalah orang yang diberi kekuasaan untuk mengurus daerah, pemerintah Kompeni akan menyetujui segala keinginan yang diajukan, setelah mendengar masalah-masalah yang menjunjung martabat dan kedudukan kompeni. Kanjeng Dalem karena ingin terpuji dan terpakai selalu melaporkan hal-hal baik saja .

Kata-kata sederhana yang dipergunakan atau dipilih penyair mengandung makna yang dalam. Konotasi yang muncul dari kata-kata itu sekaligus memberi gambaran tentang sikap dan pribadi penyair yang merasakan hidup dalam masa penjajahan. Suasana masyarakat saat itu tersirat dalam karyanya.

Manfaat dan pesan Dalam Kawih Ayang ayang Gung

Dengan demikian, bila dilihat dari makna dan isi lagu tersebut mempunyai nilai pendidikan yang baik, agar tidak menjadi orang penjilat seperti Ki Mas Tanu yang disebutkan. Hal ini merupakan nasehat yang baik bagi anak-anak bila kita tela’ah secara mendalam.

Penutup:

Pesan-pesan dari lagu tersebut tersirat dengan baik, yang dimainkan dalam permainan anak-anak, yakni permainan ucing peungpeun, yang maksudnya menerka siapa yang ditangkap dalam permainan tersebut.

Ini juga merupakan simbol dari permainan yang dapat dikaitkan dalam lagu ayang-ayang gung, yang maksudnya kita harus dapat menebak atau memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

“Janganlah melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang hanya menyenangkan dirinya sendiri agar dapat terpakai.”