Sejarah silsilah urang sunda teu menang nikah jeung orang jawa

Diposting pada

Dina sajarahna, aya mitos nu dipercaya masyarakat urang sunda nyebutkeun yen urang sunda teu menang nikah jeung urang jawa, lamun pantangan ieu di langgar ceunah bisa nyebabkeun masalah dina kahirupan, kasalemetan, kautuhan kaluargana engkena. Bakal aya kajadian atawa sasuatu lain anu tangtu urang embung dina urusan rumah tanggana engke. Nauzubillah, allahu alam..

Peta jawa barat (Gambar copyright - wikipedia.org)

Dina beberaha katerangan sajarah, lain teu aya sabab anu nyebutkeun bahwa urang sunda teu menang nikah jeung orang jawa. Lamun anjeun khususna ti JAWA BARAT (tatar sunda/pasundan), tangtu bakalan nyaho sababna? Nanging, lamun teu nyaho hayu urang tingali naon eta sababna!

PANGHIANATAN MAJAPAHIT KA PADJAJARAN

Sajarah dina mitos anu disebutkeun diluhur ahli sajarah nyebutkeun, yen aya pangaruh panghianatan nu dilakukeun karajaan majapahit ka karajaan padjajaran (sunda). Anu ujungna ngajadikeun peperangan anu teu saimbang pikeun padjajaran anu ngan nyandak sakedik prajuritPerang eta disebut perang BUBAT.

Panghianatan anu dilakukeun majapahit, nyebabkeun suku urang sunda teu menang neangan pamajikan di luaran, teu menang nikah diluaran lingkungan urang sunda atawa ulah nikah jeung pihak majapahit.

Nah, larangan ieu teras ditafsirkeun lewih luas deui, anu ujung-ujungna nyebutkeun yen urang sunda teu menang nikah jeung urang jawa.

Ningali dina mitos larangan urang sunda ieu, jelas aya dendam permusuhan sajarah dina penghianatan anu dilakukeun pihak majapahit ka padjajaran. Lamun mitos ieu dipertahankeun hakekatna nyaeta mempertahankeun derajat fanatisme suku. Tragedi perang bubat antara matapahit jeung pajajaran (sunda) emang diduga kuat nu nyebabkeun larangan eta.

Mitos teteup mitos, sakalipun urang nyebutkeuna filosofis, urang kedah inget ka gusti allah. Ulah teras ngangap sabab atawa takdir. Ulah kajerumus kana kasiyirikan. Tetep jungjung luhur kana nilai silih asah asih jeung asuh. Ulah ngalawan ka kolot.

SAJARAH PERANG BUBAT

(Bahasa indonesia, sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat)

 

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk (raja keempat Kerajaan Majapahit) yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan dan menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.

Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Foto copyright - hpijogja.wordpress.com
source@google images

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana (raja sunda) dengan Gajah Mada.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya.

Sebelum Hayam Wuruk memberikan keputusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai Kesatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur.

Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

@google images

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah.

Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Negri Sunda (Padjajaran) dan Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Akibat peristiwa ini pula, dikalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan istri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit.

Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa. Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki ‘Prabu Wangi’ (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya.

Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Ada hal yang menarik saat itu, meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda.

Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran dan tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga.

Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.

Dan hingga kini tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di jawa barat khususnya di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sebagai pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama ‘Gajah Mada’ atau ‘Majapahit’.

Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

Baca juga:
Artikel bahasa sunda tentang budaya sunda
Lukisan kota bogor jaman dulu dan sekilas tentang kota bogor!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *