3+ Struktur Wawacan dan Ciri-Cirinya yang Perlu Kamu Ketahui

Struktur pada wawacan - Karya sastra bentuk wawacan dahulu memiliki kedudukan dan fungsi yang terbilang penting dalam kehidupan di masyarakat Sunda. Wawacan merupakan sebuah karangan yang panjang, sebab suasana pada cerita tersebut berbeda-beda serta menggunakan pola patokan pupuh sunda.

Selain itu, wawacan sering dipertontonkan dalam acara-acara seperti untuk kepentingan selamatan atau ritual, acara hiburan, dan sudah menjadi kebiasaan juga apabila umur bayi sudah mencapai 40 hari terkadang masyarakat sunda akan melakukan acara selamatan atau ritual dengan menanggap atau mengundang wawacan.

Struktur Pada Wawacan Bahasa Sunda

Struktur Pada Wawacan Bahasa Sunda

Jika dilihat dari bentuknya karya sastra bentuk wawacan umumnya memiliki unsur struktur yang tetap yaitu manggalasastra (alofon), isi, dan penutup atau kolofon seperti berikut dibawah ini.

A. Manggala sastra atau alofon (Bubuka)

Umumnya, pada struktur yang pertama ini isinya mengandung atau berisi tentang permintaan izin, termasuk memuji dengan mengucap syukur dari yang menulis kepada yang maha kuasa, karuhun serta sholawat kepada Rasulullah SAW, contoh:

 (Contoh manggalasastra atau bubuka pada wawacan rengganis)

Kasmaran kaula muji,
ka Gusti Ajawajala,
nu murah ka mahluk kabéh,
jeung muji utusanana,
Kangjeng Nabi Muhammad,
nyaéta Nabi panutup,
miwah muji sahabatna

Pada bagian manggala sastra atau bubuka ini sebenarnya terbagi-bagi ke dalam beberapa urutan, seperti dibawah ini.

1. Memberikan ucapan salam atau selamat seperti "Wilujeng enjing, wilujeng sajahtera" dan lain sebagainya.
2. Memberikan sebuah bentuk pujian kepada sang Maha Kuasa serta sholawat kepada nabi dan karuhun (kolot baheula).
3. Melakukan perendahan diri serta melakukan permintaan maaf sebelumnya
4. Melakukan pemberitahuan terhadap judul sebuah wawacan yang akan diceritakan tersebut

B. Isi Cerita (Eusi Carita)

Pada bagian ini akan dimulai dari awal cerita hingga akhir pada cerita wawacan.

"Euisi nyaeta guyonan carita wawacan ti mimiti nepi ka tamat."

C. Bagian penutup (Kolofon)

Dalam bagian penutup ini akan diberitahukan mengenai tamatnya cerita wawacan tersebut, seperti dengan memberitahukan dari penulisan cerita, keterangan dari penulisan, permintaan maaf hingga ucapan rasa syukur.

(Contoh bagian penutup pada wawacan panji wulung)

Tamatna kaula ngarang
Pukul tujuh malem Kemis
di tanggal tujuh welasna,
kaleresan bulan April,
taun Kangjeng Maséhi,
saréwu dalapan ratus,
jeung genep puluh dua,
marengan hijrahna Nabi,
saréwu dua ratus tujuh puluh dalapan

Kesimpulan:

Jadi struktur dari cerita wawacan tersebut adalah manggasastra atau bubuka, isi dan juga penutup.

Wangun wawacan ngabogaan unsur struktur nyaéta manggalasastra (alofon), eusi, jeung panutup atawa kolofon.

Struktur Ciri Ciri Wawacan

Setelah kita mengetahui struktur wawacan itu seperti apa, berikut dibawah ini adalah beberapa ciri-ciri dari wawacan dalam khasanah sastra sunda.

Ciri-ciri Wawacan

  • Merupakan sebuah karangan atau cerita narasi
  • Menggunakan patokan pupuh
  • Jalan cerita nya panjang
  • Disampaikan dengan cara dinyanyikan (ditembangkeun)
  • Umumnya para pelakunya adalah orang-orang yang memiliki ilmu, pengetahuan, wawasan, yang tinggi (Jalma inuhung)
  • Wawacan termasuk kedalam bentuk karangan ugeran
  • Diketahui nama penulis, waktu serta nama pengarangnya
  • Wawacan mengandung unsur fiktif atau khayalan (pamohalan)
  • Dipertontonkan pada acara selamatan, ritual, khitanan dan sebagainya

Sebenarnya sangat disayangkan apabila dijaman sekarang pagelaran dalam membaca wawacan sudah sangat jarang ditemukan sekali, karena tergeser oleh jenis-jenis hiburan lain yang modern, dan ujung-ujungnya menggeser pertunjukan wawacan itu sendiri.

Dengan memperdalam pengetahuan kita terhadap seni wawacan yang ada ditanah sunda ini, semoga kedepannya kita bisa kembali melihat pertunjukan ini, sehingga kesenian wawacan terus lestari di jawa barat.