Naskah Wawacan Banten Girang ini merupakan koleksi Museum Nasional yang ditulis dengan huruf Latin dengan bahasa Jawa Banten yang berbentuk puisi (wawacan). Naskahnya terdiri dari 4 buah buku tulis yang dijadikan satu. Isinya menceritakan peperangan yang terjadi antara raja Bahujaya dari Banten Girang dengan raja Sukarma dari Lampung, yang akhirnya dimenangkan oleh raja Bahujaya.

Ringkasan Cerita:

Diceritakan tentang permaisuri raja Bahujaya dari Banten Girang yang bernama Ratu Galuh. la sedang hamil dan menginginkan makan gintung yang besar. Permintaannya itu dikabulkan oleh baginda. Pada malam harinya. raja Bahujaya mimpi kedatangan seorang muda yang memberitahukan bahwa kerajaan Banten Girang akan menghadapi musuh dari negeri seberang. Keesokan harinya, baginda segera menitahkan kedua patihnya yang bernama Wirakarama dan Wirakusumah untuk menghimpun angkatan perangnya, bersiap-siap mengahadapi serangan musuh.

Sebenarnya prabu Bahujaya ingin sekali menjalin hubungan persahabatan dengan raja Sukarma dari Lampung. Latu baginda mengutus seorang patihnya untuk menyampaikan surat persahabatan kepada raja Sukrama. Namun balasan yang diterimanya sangat menjengkelkan. Raja Sukarma menolak tawaran persahabatan itu, karena ia ingin menguasai kerajaan Banten Girang. Akhirnya setelah menerima penghinaan itu, raja Bahujaya mengirimkan pasukan perangnya dipimpin oleh kedua patihnya yang perkasa itu. Terjadilah peperangan yang hebat antara keduanya yang berakhir dengan kekalahan Lampung. Raja Sukarma mengundurkan diri ke Tulang Bawang, dan dari sana menyusun kekuatan dengan bantuan raja Palembang, Padang, Bangkahulu dan Batak.

Inilah asal mulanya terjadi peperangan yang lama antara Banten Girang dengan Lampung, dan ini pula rupanya makna dari mimpi raja Bahujaya dahulu. Selanjutnya diceritakan bahwa ketika raja Bahujaya berperang ke negeri seberang itu, permaisurinya yang bemama Ratu Galuh akan melahirkan putra di istana dengan ditunggui oleh madunya yang bernama Badariah. Kemudian Ratu Galuh melahirkan putra kembar yang tampan rupanya. Namun ketika Ratu Galuh masih pingsan sehabis melahirkan, Badariah segera menukarkan bayi kembar itu dengan dua ekor anak anjing.

Bayi kembar tersebut dimasukkan ke dalam peti lalu dihanyutkan ke laut. Peti itu hanyut terbawa arus laut sampai ke negara Karang Plaksan yang diperintah oleh raja Palguna. Kemudian peti itu terdampar di pantai dan diketemukan oleh seorang nelayan. Ia Segera membawa peti itu ke istana untuk dipersembahkan kepada raja Palguna. Ketika dibuka oleh baginda. tampak sepasang-bayi kembar yang baik parasnya di dalam peti itu. Raja palguna yang memang belum dianugerahi putra segera mengambil bayi-bayi tersebut dan dijadikan putranya. Kedua bayi kembar itu diserahkan kepada permaisurinya untuk dirawat secara baik-baik. Mereka diberi nama Hariang Banga dan Ciung Wanara, serta diharapkan akan menjadi raja yang besar dan sakti.

Kita tinggalkan dahulu tentang raja Palguna bersama permaisurinya yang sedang berbahagia dengan kedua putra kembarnya itu. Diceritakan tentang raja Bahujaya yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gemilang. Baginda memperoleh barang rampasan perang yang cukup banyak dan segera dibagikan kepada para prajuritnya. Setiba di istana Banten Girang, baginda langsung mendapatkan Ratu Galuh serta melihat kedua putra yang baru dilahirkan itu berwujud anjing.

Baginda sangat murka setelah diberitahukan oleh Siti Badariah hal ikhwal bayi yang baru lahir itu. Namun tidak diceritakannya tentang perbuatan keji yang telah dilakukan olehnya. Baginda percaya saja akan perkataan Badariah itu. lalu menitahkan patih untuk memasukkan Ratu Galuh bersama kedua ekor anjing itu ke dalam penjara.

Beberapa lama kemudian, raja Bahujaya berperang lagi dengan raja Sukarma dari Tulang Bawang. serta sekutu-sekutunya. Terjadilah peperangan yang sengit. Masing-masing pihak berusaha _mengalahkan lawannya. Kedua patih Banten Girang, yaitu Wirakarama dan Wirakusumah menyerbu ke dalam pasukan musuh dengan gagah beraninya. Mereka berjuang untuk membela kehormatan rajanya. Korban sudah banyak berjatuhan di pihak raja Sukarma. Wirakarama dan Wirakusumah terus mengamuk bagaikan banteng yang terluka, menghantam siapa saja yang datang mendekat kepada mereka. Raja Sukarma mendatangkan bala bantuan dari Palembang, Bangkahulu, Padang dan Batak, sehingga peperangan makin bertambah seru.

Kita tinggalkan dahulu kedua patih yang sedang berperang itu. Diceritakan tentang raja Palguna dari Karang Plaksan sedang dihadap oleh kedua putra angkatnya, yaitu Hariang Banga dan Ciung Wanara. Mereka telah dewasa dan telah diberitahu oleh raja Palguna tentang orang tuanya, serta keadaan mereka sewaktu bayi ditukarkan dengan anak anjing oleh madu ibunya, lalu mereka dimasukkan ke dalam peti, dibuang ke laut, sampai akhirnya diangkat anak oleh raja Palguna. Sedangkan ibunya dimasukkan ke dalam penjara. Setelah mendengar cerita itu, Hariang Banga dan Ciung Wanara segera minta izin kepada raja Palguna untuk mencari ayahnya itu, lalu berangkatlah mereka ke Banten Girang.

Setiba di istana, mereka segera menghadap raja Bahujaya dan menceritakan hal ikhwalnya. Raja tidak mau mempercayainya dan menguji mereka dengan beberapa percobaan berat, yang semuanya dapat dilaksanakan dengan berhasil. Namun raja Bahujaya tetap belum yakin bahwa mereka itu putranya. Akhirnya baginda menitahkan kedua satria itu untuk ikut berperang melawan raja Sukarma yang sekarang sedang berlangsung dengan hebatnya di Tulang Bawang. Kalau mereka dapat mengalahkan raja Sukarma, barulah baginda percaya bahwa mereka itu putra kandungnya. Kedua satria itu menyanggupi persyaratan tersebut, lalu pergi berperang ke Tulang Bawang.

Pada waktu itu raja Sukrama telah mendapat bantuan dari Padang, Bangkahulu, Batak, Kurinci dan lain-lain. Banyak negeri di Sumatra yang datang membantu. Raja Sukarma melawan raja Bahujaya. Namun kedua satria yaitu Hariang Banga dan Ciung Wanara tidak gentar hatinya menghadapi musuh. Mereka menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh, dan walaupun telah dikepung, mereka tetap melawan. Banyak korban berjatuhan di pihak musuh. Kemudian raja Palguna datang pula membantu dengan mengerahkan pasukan Kera. Perang berkobar lagi dengan hebatnya. Kera-kera itu tidak seperti manusia, mereka merusak, membunuh dan menghancurkan siapa saja yang tampak oleh mereka. Sehingga akhirnya pasukan perang raja Sukarma tidak dapat bertahan-menghadapi pasukan kera itu. Mereka mengundurkan diri dari medan perang bersama-sama dengan pasukan sekutunya. Mereka pergi meninggalkan negeri Tulang Bawang.

Kemudian raja Palguna, raja Bahujaya, Hariang Banga dan Ciung Wanara kembali ke kerajaan Banten Girang dengan membawa kemenangan. Mereka membawa pula barang-barang hasil rampasan perang yang kemudian dibagikan kepada para prajurit semuanya. Raja Bahujaya sangat gembira hatinya, karena selain menang perang, baginda memperoleh pula dua orang putra kembar yang sakti dan perkasa dalam medan perang. Baginda yakin bahwa kedua satria itu benar-benat putra kandungnya yang dahulu ditukarkan dengan anak anjing.

Setiba di istana, raja Bahujaya segera menitahkan untuk mengeluarkan Ratu Galuh dari dalam penjara. Sebagai gantinya, Siti Badariah dimasukan ke dalam penjara. Bersama dengan Raja Palguna, raja Bahujaya mengadakan pesta besar di istana Banten Girang. Mereka merasa bahagia karena dapat berkumpul lagi sekeluarga.

Kemudian diceritakan tentang prabu Brawijaya dari Majapahit yang sedang bersusah hati karena putrinya dilamar oleh raja Bujakalana dari Blambangan. Putrinya yang bernama Dewi Sari­rasa itu tidak mau menikah dengan raja Bujakalana, sehingga menimbulkan kemarahannya. Maka terjadilah peperangan antara Majapahit dengan Blambangan.

Prabu Brawijaya minta bantuan kepada Banten Girang, karena tentara Blambangan amat kuat. Raja Prabalingga memberitahukan kepada raja Blambangan, bahwa Majapahit akan dibantu oleh raja Banten Girang yang terkenal mempunyai dua orang putra kembar yang sakti. Mendengar itu, raja Blambangan segera minta bantuan kepada raja-raja sekutunya dari seberang, yaitu Madura, Pontianak, Banjar, Bugis, Makasar, Bima dan Sumbawa. Perang berkobar lagi dengan hebatnya. Masing­-masing pihak memperlihatkan keunggulannya dalam berperang. Di sini terlihat kegagahan dan kepahlawanan Hariang Banga dan Ciung Wanara dalam mengahadapi musuh-musuhnya. Seperti banteng yang terluka, mereka maju menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh, sehingga banyak yang mati.

Akhirnya tentara Blambangan dan sekutunya mengundurkan diri, karena tidak dapat menahan serangan dari kedua satria itu. Perang pun selesailah sudah dengan kemenangan berada di pihak raja Majapahit. Kemudian, prabu Majapahit menikahkan Dewi Sarirasa dengan Hariang Banga yang kelak menggantikannya menjadi raja di Majapahit. Sedangkan Ciung Wanara kembali ke Banten Girang bersama-sama raja Bahujaya. Kemudian Ciung Wanara dijadikan raja di Banten Girang.

Sumber:
Jusuf, Dra. Jumsari  dan Dra Tuti Munawar. 1982. “Wawacan Banten Girang”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.  repositori.kemdikbud.go.id Diakses 7 Juli 2020.